Rabu, 02-Desember-2020
14:22 WIB - Gubri Positif Covid-19, Keluhkan tak Enak Badan Usai Acara di DPRD Riau | 14:19 WIB - Bupati Inhil Pemenang Lelang Batik Kuda Laut | 14:12 WIB - PWI Riau & SPS Gelar Tiga Kegiatan Virtual | 14:07 WIB - DPRD Pekanbaru Gelar Rapat Paripurna Sahkan APBD Murni 2021 | 14:02 WIB - Pemko Pekanbaru Resmikan Kantor UPT Badan Pendapatan IV | 14:00 WIB - Walikota Pekanbaru Ingatkan Tidak Ada Sekolah Gelar Belajar Tatap Muka
www.gardasatu.com
 
Bupati Nonaktif Bengkalis Mengaku Khilaf
Jumat, 18-09-2020 - 18:34:40 WIB

TERKAIT:
 
  • Bupati Nonaktif Bengkalis Mengaku Khilaf
  •  


    JAKARTA (Gardasatu.com) - Sidang dugaan tindak pidana korupsi yang membuat Bupati Bengkalis nonaktif, Amril Mukminin menjadi pesakitan kembali digelar, Kamis (17/9). Dalam sidang itu, Amril menjelaskan terkait uang sebesar Rp 5,2 miliar dari PT Citra Gading Asritama dan uang senilai Rp 1,9 miliar yang kini telah disita pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Ia mengaku menerima uang Rp 5,2 miliar dari PT Citra Gading Asritama (CGA) terkait proyek jalan Duri-Sei Pakning. Namun, uang itu tidak pernah digunakannya dan sudah dikembalikan ke penyidik KPK.

    Uang itu disimpan ajudannya, Azrul Nur Manurung. Setelah itu, mantan anggota DPRD Bengkalis ini meminta Azrul tak lagi menerima uang.

    Kepada Ketua Majelis Hakim, Lilin Herlina SH, Amril menyatakan tidak pernah meminta uang, meskipun PT CGA menawarkan komitmen fee. Amril hanya meminta perusahaan mengerjakan jalan itu dengan baik.

    "Namun saya khilaf, itu kekhilafan saya," kata Amril ketika ditanya kenapa akhirnya menerima uang itu dalam sidang digelar secara online, Kamis, (17/9) sebagaimana dilansir merdeka.com.

    Amril pernah ditemui bos PT CGA, Ihsan Suaidi, ketika dirinya terpilih sebagai Bupati Bengkalis. Pertemuan itu terjadi di Kopi Tiam Pekanbaru. Ihsan menyebut proyek itu harus dikerjakan karena ada putusan Mahkamah Agung.

    Tak sampai di situ, pertemuan itu berlanjut di Plaza Indonesia Jakarta. Usai pertemuan, Ihsan memberikan uang Rp 1 miliar dalam bentuk Dolar Singapura, lalu diberikan Amril kepada ajudannya untuk disimpan.

    Setelahnya, Amril berurusan dengan karyawan PT CGA, bernama Trianto. Ada beberapa kali pertemuan, baik itu di Medan, Sumatera Utara ataupun di rumah dinas bupati. Namun Amril menyatakan tak pernah menyinggung soal uang.

    Belakangan, Azrul sebagai ajudan Amril berhubungan dengan Trianto dan beberapa kali menerima uang. Semua pemberian itu dilaporkan kepada Amril dan Azrul disuruh menyimpan dulu.

    "Totalnya Rp 5,2 miliar, saya minta ketika Azrul resign dan setelah itu serahkan ke KPK tanpa pernah saya pakai," tuturnya.

    Amril menyebut uang dikembalikan setelah KPK mulai mengusut penyimpangan sejumlah proyek di Bengkalis. Kala itu, Amril mengaku bingung karena telah menerima uang tersebut meskipun berkaitan antara proyek dan jabatannya.

    Sementara, KPK juga menyita uang Rp 1,9 miliar dari rumah dinas mantan kepala desa di Bengkalis itu. Kepada hakim, Amril menjelaskan, uang itu merupakan hasil usahanya di luar jabatan.

    "Uang itu saya kumpulkan dari usaha sawit yang saya simpan untuk membantu anak yatim," tegas Amril.

    Terkait dakwaan menerima gratifikasi dari pengusaha sawit, Jonny Tjoa sebesar Rp 12.770.330.650 dan Adyanto sebesar Rp 10.907.412.755, Amril menyatakan itu murni usahanya sawit. Uang itu diterima berdasarkan perjanjian pada tahun 2014 hingga 2019.

    Menurut Amril, di tempat kelahirannya di Kecamatan Pinggir ada belasan perusahaan sawit. Saat itu, Amril mengaku sudah menjadi pengepul sawit masyarakat untuk dimasukkan ke perusahaan.

    Karena pekerjaannya ini, apalagi saat itu Amril juga sebagai anggota DPRD, Jonny Tjoa dan Adyanto datang kepada dirinya. Kedua pengusaha itu ingin Amril mengajak masyarakat memasok sawit ke perusahaan.

    "Datang sendiri keduanya, kemudian ada perjanjian dan kesepakatan bersama tanpa paksaan di bawah notaris," kata Amril menjawab pertanyaan majelis hakim dan Jaksa KPK, dan pertanyaan dari kuasa hukumnya, Asep Ruhiat.

    Perjanjian bisnis itu juga memberikan Amril Rp 5 per kilogram sawit yang masuk ke perusahaan. Uang itu dikirim setiap bulan, baik itu tunai ataupun transfer.

    "Kalau terlambat tidak pernah saya tanya karena ada perjanjiannya," terangnya.

    Untuk sawit masyarakat yang masuk ke perusahaan, Amril menyerahkan pencatatannya kepada seseorang di Kecamatan Pinggir. Amril juga pernah mengecek ke perusahaan. Setiap pemasukan dari perjanjian ini selalu dilaporkan melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara.

    "Setiap tahun ada LHKPN, ada rinciannya," tandasnya. (rsc)



     
    Berita Lainnya :
  • Bupati Nonaktif Bengkalis Mengaku Khilaf
  •  
    Komentar Anda :

     
     
     
     
    TERPOPULER
    1 Pertama kali Sejak Berdiri
    Disperindagpas Inhu Safari Ramadhan di Desa Sanglap
    2 Diduga Dikorupsi, Dana Sewa Tanah Kas Desa dari Exxon Mobile Raib.
    WARGA DESA NGASEM LAPOR BUPATI BOJONEGORO
    3 Kemenhut RI Gelontorkan Program Kredit Tunda Tebang
    4 PERINGATI HUT ke-231:
    Walikota Pekanbaru Ajak Warga Bersinergi, Bergerak Cepat dan Tepat dalam Pembangunan
    5 Tertunda Bertahun Tahun
    Akhirnya Panitia MUSDA IKNR Kampar Terbentuk
    6 Plt. Sekda Inhu Tutup Lomba Pacu Sampan Dilanjutkan Mandi Balimau
    7 ANTISIPASI BERBAGAI PERMASAALAHAN
    Rapat Koordinasi Pimpinan Daerah di Gelar
    8 Pelalawan Raih Penghargaan Adiwiyata Mandiri 2015
    9 Dewan Pengupahan Kabupaten Siak
    UMK tahun 2015 sebesar Rp. 1.935.372
    10 Pertarungan Minggu, 19 Juli 2015
    Chavez vs Reyes

    Home | Daerah | Nasional | Hukum | Politik | Olahraga | Entertainment | Foto | Galeri | Advertorial | Suara buruh | Kepulauan Nias
    Pekanbaru | Siak | Pelalawan | Inhu | Bengkalis | Inhil | Kuansing | Rohil | Rohul | Meranti | Dumai | Kampar
    Opini | Redaksi | Pedoman Berita | Index |

    Copyright © 2017
    GARDA SATU | Membela Kepentingan Rakyat Demi Keadilan